Bahagia

Pada tulisan sebelumnya, sudah disampaikan bahwa untuk mencapai kebahagiaan trap awal yang harus dilalui adalah kesadaran bahwa semua amal perbuatan dari yang baik maupun yang buruk, akan berpulang kembali pada diri sendiri. Kita yang menanggung ganjaran dan pahalanya. Dalam al quran diterangkan, Walaa taziru waaziratun wizro ukhro, tidak bisa menanggung orang yang menanggung pada tanggungan orang lain. Artinya kita yang berbuat ya kita yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, pilihlah beramal yang baik, walaupun seberat biji kurma dan hindarilah berbuat jahat walau seberat semut pudak pun. Selanjutnya, anak tangga kedua yang harus dilalui untuk meraih kebahagiaan adalah kesadaran bahwa kita adalah makhluk spiritual, bukan makhluk fisik. Pemahaman ini berguna untuk melepaskan keterikatan kita pada dunia mayapada. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan manusia adalah menyangka bahwa manusia adalah makhluk fisik. Banyak orang beranggapan bahwa ''Aku adalah tubuhku.'' Karena itu, seluruh hidupnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya. Mereka mengumpulkan harta, mencari uang dan memenuhi nafsu badannya seakan-akan mereka akan hidup untuk selama-lamanya.
Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, ''Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.'' Manusia bukanlah ''makhluk bumi'' melainkan ''makhluk langit - makhluk surga.'' Mari kita cermati kembali bunyi surat Al-A’raaf:172, ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap ini".

Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi ini. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ''rumah'' untuk mencari ''rumah'' yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Coba kita resapi paragraf di atas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau kita menyadari hal ini, kita tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Bila kita sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup! Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan -- apalagi dengan menyalahgunakan jabatan, menempuh jalan yang salah serta menghalalkan segala cara -- kalau hasilnya tidak dapat kita nikmati selama-lamanya. Apalagi kita sudah merusak jiwa kita sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi. Jadi perintah Allah di surat Adz – Dzaariyat :56; Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku adalah sebagai pengingat bahwa kita bukan makhluk bumi, tetapi kita adalah makhluk spiritual dimana jiwa kita akan kembali ke surga di hadirat Allah. Dengan beribadah kepada Allah kita diingatkan bahwa bagian terpenting dari hidup kita adalah jiwa kita yang nanti akan kembali kepada-Nya.
Mulai sekarang harus kita sadari betul bahwa jiwa kita adalah bagian terpenting yang harus kita jaga dan pelihara. Sebab dengannya kita akan terus bersama. (Sebelumnya mohon maaf, cerita ini tidak bermaksud ngendon-ngendoni masalah perwayuhan. Sekali lagi, mohon maaf –jangan disalahtafsirkan).
Seorang tua yang kaya raya sedang tergolek di tempat tidur – kamar mewah rumah sakit – menunggu maut datang menjemput. Di saat-saat terakhir, ia mengumpulkan keempat istrinya. Ia ingin mengajak mereka untuk menemaninya sampai ke alam baqa. Dipanggillah istrinya satu persatu. Dimulai dari istri keempatnya, yang paling muda sekaligus paling cantik. Istri ini berkata, ''Maafkan aku. Tentu saja aku sangat sedih memikirkan kepergianmu, tapi aku masih memiliki banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku tak dapat menemanimu.'' Kecewa dengan jawaban itu, si lelaki memanggil istri ketiganya, namun istrinya ini mengatakan, ''Aku hanya dapat menemanimu sampai engkau menghembuskan nafasmu yang terakhir.'' Istri keduanya pun dipanggil. ''Aku akan menemanimu, tetapi hanya sampai di pemakaman saja,'' ujarnya. Hampir putus asa, akhirnya ia memanggil istri pertamanya. Dengan mantap si istri pertama berkata, ''Aku akan menyertaimu kemanapun engkau pergi.''
Cerita inspiratif ini sebenarnya dimaksudkan sebagai gambaran kehidupan kita sendiri. Istri keempat adalah analogi dari harta yang kita kumpulkan selama kita hidup. Istri ketiga adalah tubuh kasar kita yang amat kita perhatikan dan selalu kita rawat. Istri kedua adalah analogi dari keluarga kita istri-istri kita dan anak-anak kita. Istri pertama yang paling setia adalah gambaran tubuh halus kita, jiwa dan spiritualitas kita. Inilah yang akan menyertai kita kemanapun kita pergi dari alam ruh sampai nanti ke alam baqa.
Ironisnya, banyak manusia selama hidupnya, telah menghabiskan waktu dan energi yang tidak sedikit untuk urusan harta, badan, dan keluarga. Padahal cepat atau lambat mereka akan meninggalkan kita. ''Harta'' satu-satunya yang paling setia yaitu jiwa kita justru sering kita abaikan. Oleh karena itu, bangkitkan lagi semangat kita seiring sabda Nabi SAW, ”Siarkanlah salam, berikanlah makanan dan sholatlah malam ketika manusia yang lain tertidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan salam”.

Isilah rohani kita, manusia adalah makhluk spiritual. Kita bukanlah tubuh kita, kita adalah jiwa kita. Sejak pertama kali diciptakan, kita adalah makhluk spiritual, dan sampai kapanpun kita tetap makhluk spiritual. Jadi, berbahagialah dengannya.

Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Saya senang sekali membaca Nasehat-nasehat Pak Ustadz, terutama pada seri bahagia kali ini, apalagi setelah saya selesai pasang ring dijantung saya, nasehat ini sangat mengena sehinggga bisa membangkitkan kembali gairah amal sholeh jiwa saya Pak Ustadz, ajkhr.

    0 Like

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII