Kepemimpinan 4

Banyak orang yang masih beranggapan bahwa menjadi pemimpin itu instant. Maksudnya bisa dipelajari, disiapkan dan dicetak. Maka mucullah pelatihan – pelatihan leadership bak jamur di musim hujan. Bahkan dijadikan syarat, bahwa untuk duduk di sutau jabatan tertentu harus lulus training kepemimpinan level ini dan ini. Apa yang terjadi? Tidak banyak diketemukan kepemimpinan dari langkah seperti ini. Yang ada hanya manajerial saja. Mereka tahu cara memimpin tetapi tidak tahu bagaimana mengaplikasikannya. Mereka faham, tapi tidak ada kekuatan untuk melakukannya. Begitulah kehidupan merangkak, banyak orang yang tidak mau berkaca pada kearifan sunnatullah yang disebut hukum alam ini.
Pada suatu hari, seseorang menemukan sebuah kepompong dan memungutnya dengan maksud memeliharanya. Setelah beberapa saat, muncullah lubang kecil dari kepompong tadi. Orang itu duduk, lalu mengamati apa yang terjadi dengan kepompong ini. Ada pergerakan dari dalam - yaitu seekor calon kupu – kupu sedang berjuang keras keluar dari kepompong melewati lubang kecil diujungnya. Kemudian kupu-kupu itu berhenti setelah berjam – jam bergerak – bergelogetan - mendesak keluar.  Kelihatannya kupu-kupu itu sudah kelelahan, setelah berusaha semampunya sekian lama dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Dan akhirnya kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya. Glundung.

Namun, apa gerangan yang terjadi? Kupu – kupu itu memang sudah keluar dari kepompongnya. Ia sekarang bebas. Kupu – kupu itu tergeletak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap kecil yang mengkerut. Orang tersebut dengan telaten, terus – menerus mengamatinya karena sangat berharap, pada saat berikutnya, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu mengangkat tubuh kupu-kupu itu, dan terbang ke awan. Sayang, semua itu tidak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan jalan merangkak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang selamanya. Karena tidak melewati proses yang seharusnya. Yang tidak pernah dimengerti dari kebaikan orang tersebut adalah bahwa lubang kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Allah untuk memaksa cairan dari kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut. Tubuhnya ramping dan sayapnya indah berwarna, sehingga mempesona.

Itulah gambaran pemimpin karbitan. Itulah kejadian, jika pemimpin diformat secara instan. Waktu memang tidak bisa ditipu. Dan pengalaman memang tidak akan tergantikan. Pengalaman adalah guru terbaik, yang memberikan kesempurnaan pada kehidupan ini. Pengalaman memberikan nilai kepada pelakunya, baik gagal maupun berhasil. Sedangkan pelatihan membuat pelaku mencari nilainya sendiri, kadang bahkan hanya untuk mengejar predikat lulus. Maka, entah kebetulan atau tidak, serasa dalil di bawah ini sungguh – sungguh mengena di hati saya.

Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabipun kecuali Nabi tersebut penggembala binatang ternak. Maka bertanya para shahabatnya. Dan engkau (juga)? Beliau berkata:"Ya, dahulu aku menggembala domba dengan upah beberapa dinar milik penduduk Makkah." (Rowahu Bukhory bab Ra'al ghanam 'ala qaranith yaitu dari hadits Abi Hurairah, dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah no (2149))

Hadits ini secara tersirat menjelaskan sebuah hakikat kepemimpinan bagaimana ia tumbuh dan berkembang melewati semua scenario yang seharusnya ditempuh. Tidak meloncat dan kelewat. Tetapi satu per satu harus ditempuh sampai waktunya tiba; didaulat sebagai pemimpin yang sebenarnya. Bukan hanya terampil memimpin diri sendiri, tetapi melampauinya. Sebab tuntunan dan runutannya sudah paripurna, seperti gambaran di atas, menjadi kupu – kupu yang sukses bermetamorfosa, bisa terbang dan mempesona dengan keindahan warna sayapnya. Itulah dinamika kepemimpinan yang dengan bijak memberikan peringatan kepada kita semua bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan atau dipercepat dengan sebuah rekayasa.


Oleh:Ustadz.Faizunal.Abdillah

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - nasrullah syaifudin

    <br />.wah itu kan cara yg baek bwt jd pemimpin,alzkh yaw atas nasehatny! :idea:

    0 Like
  • Guest - Hertanto

    :-) This is good advise. Ajkk

    0 Like

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII