Hidup, amal dan cinta

Untuk variasi, kadang kalau mau nderes, saya suka gambling. Ambil kitab, tegakkan dan biarkan kitab terbuka dengan sendirinya. Acak. Atau ambil kitab, pegang dan buka sembarang. Hal itu sering saya lakukan kalau pas tidak ada ide. Lagi penat bin sumpek. Kalau halaman yang terbuka ternyata tidak menarik, ritual itu diulangi lagi. Sampai dapat sesuai selera. Bahkan tak jarang malah ganti kitab. Selain cara di atas, biasanya saya juga pakai gaya kuno, telusur dari daftar isi dan buka lembar per lembar. Dari bab, sub bab kemudian ke judul, baru lari ke halaman yang dimaksud. Topiknya pasti yang menarik hati saja, hindari yang ruwet dan berat - berat. Yang menyenangkan dan menambah semangat maupun keimanan saja. Ada kalanya, kegiatan seperti itu membuahkan sesuatu yang mengharukan, seperti mendapatkan sesuatu yang benar – benar baru. Dahsyat. Laksana mendapat durian runtuh. Maklum, memory manusia memang terbatas. Lupa seolah menjadi menu dimana - mana. Padahal sebenarnya hanya pengulangan saja kan? Namanya saja deres. Namun, karena situasi dan kondisinya berbeda inilah, akhirnya hasilnya pun beda pula rasanya. Untuk  kali ini saya akan berbagi sesuatu yang saya dapatkan dari kegiatan kecil berupa deres ini, dengan hasil yang saya sebut mengharu-biru cakrawala batin saya.

Dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena kamu pasti mati, beramallah sesukamu karena kamu akan dibalas dengannya, dan cintailah orang yang kamu cintai sesukamu karena kamu pasti berpisah dengannya. Dan ketahuilah sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin adalah qiyamul lail (sholat malam) dan kehormatan mukmin adalah rasa kayanya (menahan diri dari meminta – minta) jauh dari sesama manusia.” (rowahu at-Thabrani fi Mu’jam al-Ausath)

Dimanakah daya tariknya? Wuih…, banyak sekali menurut saya. Pertama, dari gaya bahasanya. Saya suka sekali dengan pemakaian kata syi’ta - sesuka – sukamulah. Ngledek banget rasanya. Orang jawa bilang nglulu. Ingat sama Ahli Badar yang fenomenal itu. Kesan awal begitu menggoda, seperti mendapatkan kebebasan; terserah lho deh! Tapi dikunci dengan akhir pernyataan yang pakem. Kalimat yang imbang. Seperti dilepas, kemudian ditarik lagi. Diangkat terus dijatuhkan. Sebagai mukmin seperti ditantang kemukminannya. Tunjukkan merahmu, begitu kalau boleh meminjam salah satu iklan rokok.

Kedua, yang dibahas hal yang esensial lagi universal: hidup, amal dan cinta. Boleh hidup sesukanya, tapi ingat, semua orang pasti mati. Artinya bersiaplah untuk bekal setelah mati. Seorang bijak pernah ditanya, ''Apa yang Anda dan murid-murid Anda lakukan dalam hidup ini?'' Ia menjawab, ''Kami hanya duduk, kami hanya berjalan, dan kami makan.'' Si penanya tidak mengerti apa maksudnya. ''Tetapi,'' lanjutnya, ''Bukankah setiap orang juga duduk, berjalan, dan makan?'' ''Ya,'' sahut sang bijak,'' Tetapi ketika kami duduk, kami sadar kami sedang duduk. Ketika kami berjalan, kami sadar bahwa kami sedang berjalan. Ketika kami makan, kami sadar kami sedang makan.'' Jadi, sadarlah selalu kemana hidup ini berjalan dan untuk apa hidup kita sebelum gerbang kematian benar – benar datang menyapa.

Boleh berlaku dan beramal seenaknya, tapi semua diri nanti akan menerima ganjarannya masing – masing. Kalau benar dapat, kalau salah ya bersiaplah; guwak byuk.  Beramal, bukan sekedar baik tapi harus tepat sasaran; buat diri dan sekitar. Ada seorang Bapak tua sedang asyik menanam pohon buah – buahan di sebuah bukit yang gundul dan gersang. Bukit itu akhirnya penuh dengan pepohonan dan buah – buahan. Orang jadi senang dan memperoleh manfaat dari budi baik si Bapak itu. Karenanya, menghantarkan si bapak menerima penghargaan sebagai pengakuan akan jasanya. Pada malam penghargaan si Bapak ditanya, “Apa yang melatarbelakangi tindakan yang mulia itu?” Si Bapak dengan spontan menjawab, “Bumi telah lama memberikan kebaikan kepada saya dan orang – orang terdahulu juga telah mewariskan kebaikan yang banyak kepada saya. Mudah – mudahan dengan tindakan kecil saya ini, saya bisa membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya dan orang – orang yang akan datang serta menjaga kelestarian dan keindahan bumi tercinta ini.”

Terus mencinta juga begitu, silahkan mencintai siapa pun dan apapun, tapi nanti akan berpisah juga. Jangan mencinta secara membabi - buta. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil terus menggumam, ''Lulu..., Lulu....!'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. ”Dokter kenapa orang ini?”, tanya si pengunjung. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat kamar lain ia terkejut melihat penghuninya terus - menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu...., Lulu, Lulu...”. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanya pengunjung memastikan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.'' Hati – hatilah dengan masalah cinta ini. Salah mencinta bisa petaka.

Ketiga, ditunjukkan dua hal yang menjadi pemuncaknya; yaitu qiyamul lail dan prawiro. Berdiri di saat yang lain tertidur. Dan tidak blubut meminta – minta kepada manusia. Ta’afuf. Terjaga. Tiba – tiba dengan cepat terlintas dalam benak saya arti 4L dalam hadits ini. Kebutuhan  berupa kebutuhan fisik untuk hidup (to live), berikutnya kebutuhan social emosional, saling kasih - sayang dan memperhatikan (to love), kemudian kebutuhan mental (to learn) dan terakhir adalah kebutuhan meninggalkan warisan (to leaving a legacy).

Keempat, seperti sebuah tamparan buat saya yang mengaku mukmin, ketika disebut qiyamul lail dan prawiro. Kata yang selalu menjadi impian tak pernah kesampaian. Dan ingin selalu didapatkan, tapi susahnya bukan kepalang. Tak lain karena jarangnya bisa melakukannya. Jadinya, seperti punguk merindukan bulan. Walau terus selalu mencoba meraihnya.

Kelima, segera saya menutupnya. Karena tak tahan mengulang dan mengulangnya. Semakin diulang semakin dalam sakitnya. Tambah lama tambah dalam dan lebar. Dan malam itu, dalam luka yang menganga, dan rindu yang dalam, tiba – tiba serasa saya dibangunkan dan punya kekuatan  untuk bersimpuh kepadaNya. Alhamdulillah, alhamdulillah……

Oleh: Ustadz.Faizunal Abdillah

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - Guest

    nasehat yang sangat bagus I LIKE<br /><br />BY JOKAM JAKARTA

    0 Like
  • Guest - niko arisandi

    :-) heheeee... hidup emang banyak rasa.. kadang manis kadang juga pahit... hehe... maknyus lah buat inspirasi.. <br /><br />salam jokam banyuwangi<br />@arisandos..

    0 Like
  • Nasehatyang begitu menyentuh hati....<br />Alhamdulillahijaza kallohu khoiro<br />Djokam CC :D

    0 Like
  • mohon ijin nasehatnya aq copas di blog aq ya<br />http://www.arroyan354.blogspot.com/<br />jazkum

    0 Like
  • Guest - septiyan_f

    hmmm.. terimakasih atas nasehatnya....<br />alhmdulilahi jaza kumullohu qoiro..<br />by : jokam pekanbaru.

    0 Like
  • :love: hidup ini memang perjuangan siang berganti malam malam berganti siang waktu terus bergantian tak terasa umur teruuuuss berkurang apa yang kau inginkan apa yang kau harapkan apa yang kau cita cita kan akhirnya menhadap tuhan untuk hari khisapan >>>>>><br />by jokan banyuwangi tengah jajag jatim

    0 Like
  • Guest - ahmad zamzam akbar

    aslkum....<br />menuru t saya nasehat ini bagus ya...dan bs dikerjakan dan diamalkan...<br />dan semoga jamaah bs hidup bahagia dan aman selamat,lancar dan barokah....Amiiiiinn,,, :D :D

    0 Like
  • Guest - bagus

    <br />asslmualaikm,,sblmnya perknalkn saya jokam makassar,,<br />dan trima ksih sya ucpkn pda pembuat artikel di ats,,<br />krna sangt menrik skali perhtian sya,,smoga website ldii slalu lncar barokah,<br />mnjadikn naseht2 yg mnumbuhkn pemntpn QHJ<br />alhmdulilahi jaza kumullohu qoiro

    0 Like

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII