Catatan Ringan Puasa (1)

Di dalam Kitaabu ash-Shoum, Imam Bukhory meriwayatkan hadist dari jalur Abu Hurairah r.a sebagai berikut - dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.”  

Di dalam Kitaabu al-Adaab, Imam Bukhory juga merilis hadist serupa, hanya ada sedikit tambahan yaitu al-jahla. Selengkapnya arti hadist tersebut sebagai berikut. Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW ia bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan serta tindakan bodoh (jahil), maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.” Bulan puasa yang lalu, ada cerita berharga untuk pelajaran kita bersama. Sambil meninabobokkan si kecil di dalam rumah, istri saya menyimak pembicaraan anak-anak yang bermain di teras depan rumah. Maklum, karena awal puasa biasanya anak sekolah libur. Dan untuk mengisi waktu luang, pagi buta mereka udah ngumpul sambil ngrumpi ngalor – ngidul dan bermain ala kadarnya. Maklum, namanya juga bocah. Nah, dari obrolan mereka terekam dialog yang membuat kita orang yang tua-tua pengin ketawa.

Pada awalnya mereka berbicara perihal dirinya. Tepatnya ’nyombong’ kalau dirinya mengerjakan puasa. Tapi, sebentar kemudian ada yang tersinggung karena rebutan mainan atau tindakan yang lain sehingga tidak akur. Akhirnya keluarlah kata umpatan; ”Bego’ loh!”
Anak yang lebih besar mengingatkan, ”Hey, puasa – puasa nggak boleh ngomong bego.”  
Anak yang lain nimpali, ”Batal loh puasanya......”
Tapi si anak yang diingatkan ternyata belum ngerti apa hubungan antara puasa dengan umpatan bego. Karena biasanya omongan begitu itu sudah biasa, nggak ada yang melarang. Kenapa sekarang dipermasalahkan. Makanya anak yang merasa sudah mengerti berlagak menjelaskan. Katanya, ”Orang yang puasa, nggak boleh ngomong bego, tololll,,,,,!”

Istri saya tertawa cekikikan demi mendengar penjelasan itu. Ngomong bego tidak boleh, tapi malah pakai tolol segala. Setali tiga uang.  Itulah anak – anak. Tapi anehnya, penjelasan itu mengena  di hati mereka. Saat itu.

Bagi kita yang sudah dewasa tidak ada permasalahan dengan menahan lapar dan dahaga berpuasa. Terkadang yang susah adalah menahan diri dari perkataan dusta dan perbuatan dusta seperti hadist di atas. Apalagi yang kesehariannya sudah menganggap lumrah dan jamak hal-hal seperti itu. Sungguh mengkhawatirkan. Sebab ancamannya tidak lain adalah mengurangi pahala puasa kita. Sayang bukan?

Nah, jika belum bisa melaksanakan hadist di atas berarti puasa kita setingkat dengan puasa anak – anak dong? Padahal kita-kita ini udah dewasa? Ya, itulah garisnya. Tapi itu belum seberapa. Yang menyedihkan adalah jika Allah tidak menerima puasa kita. Karena kita benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Oleh karena itu, mari waspadai perjalanan puasa kita. Hindari hal di atas. Ingatlah, dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda: Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan banyak orang yang beribadah pada malam hari namun tidak mendapatkan darinya kecuali hanya begadang saja".1[1]

Oleh :Ustadz.Faizunal Abdillah

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - Nasrulloh

    Yupz klau puasa tuch musti nahan segala2x teutama nafsu itu

    0 Like

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII