Menyemai Pendidikan Politik, Memanen Kader Kemudian

diskusi-kader

Rumah Kebangsaan menghelat diskusi bertajuk “Urgensi Regenerasi Politik” pada 11 September 2013. Diskusi ini menjadi penting, sebab menjelang Pemilu 2014, parpol cenderung kian pragmatis dan memilih jalan pintas.

Pemilu legislatif 2014 sejatinya bukan persoalan kalah atau menang. Pada titik yang paling ideal, Pemilu adalah pertarungan manajemen politik pada parpol. Mereka yang menang, adalah parpol yang memiliki manajemen dan sistem pengkaderan yang terbaik. Ini adalah rumus baku, mereka yang terbaik, merekalah yang juara. Adagium ini hanya bisa dirusak oleh politik uang dan partai pemenang melakukan kecurangan.

Persoalannya, tak semua parpol memiliki regenerasi yang baik. Yang pada akhirnya memungkinkan adanya penumpang-penumpang gelap, yang justru tak memahami ideologi parpol. Sejatinya, bagaimana kaderisasi politik yang ideal? Ketua Bidang Politik DPP PAN Bima Arya berkeyakinan, kaderisasi politik dapat berjalan apabila ada proses regenerasi secara sistematis. Menurutnya, kaderisasi hanya bisa dilakukan bila parpol membangun sistem yang kuat, dan partai politik merekrut tokoh muda menjadi pemimpin di semua tingkatan.

“Saat ini orang mau memilih karena magnet personal. Bukan sistem yang menjemput dibangun untuk anak muda. Akibatnya, figur muda bisa mengalami kultus sehingga mudah tergelincir," kata Bima. Regenerasi menurut Bima, bukan soal usia melainkan regenerasi nilai-nilai. Menurut dia, kontestasi politik yang sangat ditentukan popularitas dan uang menjadi hambatan bagi anak muda untuk terjun dalam pertarungan politik.

Sementara pengamat politik dari Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mengungkapkan regenerasi pada partai besar sangat payah. “Banyak kader muda parpol yang memiliki kemampuan dan sangat brilian dalam politik dipaksa untuk hengkang dari partainya,” ujar Ikrar. Problem ini ada pada Golkar, PDIP, bahkan Demokrat.

Ikrar mencontohkan badai di Demokrat. Terlepas dari kesalahan yang diperbuat Anas, menurut Ikrar, Anas memiliki satu gagasan cerdas. “Coba lihat, bagaimana Demokrat setelah SBY yang memimpin? Semua iklan Partai Demokrat, selalu mengedepankan SBY dan menjadikan tokoh utamanya. Ini jelas tidak ada regenerasi yang baik,” ungkapnya. Menurut Ikrar, persoalan regenerasi bukan hanya dilihat dari faktor usia, tapi juga branding politiknya. “Karena hanya branding politik yang laku dijual pada konstituen,” pungkasnya.

Menanggapi fenomena urgensi regenerasi kader parpol, Ketua DPP LDII Chriswanto Santoso berpendapat, tugas parpol adalah melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, dan menciptakan kader. “Parpol yang mapan, bisanya memiliki pelatihan kader dari tingkat bawah hingga ke atas, secara berjenjang,” ujar Chriswanto yang juga Wakil Ketua DPD Golkar Jawa Timur.

Namun, menjelang Pemilu parpol tak sepenuhnya memunculkan kadernya, untuk memenangi Pemilu. Chriswanto mencotohkan partai yang merekrut caleg dari luar, menunjukkan pengkaderannya tak berjalan dengan baik, “Pengkaderan dalam parpol adalah penanaman ideologi, agar menghasilkan kader yang loyal dan mampu menerjemahkan ideologi dan kebijakan parpol,” papar Chriswanto. Merekrut caleg dari luar kader beresiko memperoleh orang yang tidak loyal dan hanya bergerak atas kepentingan, bukan ideologi partai.

Tapi, menurut Chriswanto, perekrutan calon legislatif dari elit masyarakat dari luar kader tak melulu negatif. “Orang-orang di luar kader ini, bisa menjadi vote getter di luar mesin partai. Mereka bergerak dengan jaringan mereka, sehingga suara parpol kian besar,” ujar Chriswanto. Dia mengingatkan, para elit yang direkrut parpol, sebaiknya setelah Pemilu masuk secara struktural dalam parpol . Dengan demikian, bila seseorang memiliki idealisme mengenai politik santun, bisa mengubah wajah parpol dari dalam.

“Bila parpol hanya diisi oleh kelompok kepentingan, maka wajah demokrasi Indonesia tidak bisa mencapai kualitas yang diharapkan. Padahal demokrasi adalah salah satu cara untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur,” ujarnya. Artinya, pengkaderan yang baik akan membuat parpol panen kader, tanpa harus merekrut “penumpang gelap”. “Kalaupun merekrut elit politik di luar kader parpol, sebaiknya parpol memilih tokoh yang berkualitas dan memiliki integritas,” ujar Chriswanto. (EKO, LC)

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - ilman

    mugo" allah paring lancar barokah

    0 Like
  • Guest - Soeroso

    Mudah-mudahan dalam pesta demokrasi tahun 2014, terpilih anak-anak bangsa yang duduk di Legislatif maupun Ekskutif bisa mencurahkan tenaga dan pikirannya dengan niat untuk pembangunan bangsa dan negara yang dapat mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 45. NKRI yang aman, tnteram, damai, adil dan makmur disemua lapisan rakyat Indonesia. Semoga Alloh memberi Petunjuk pada Pemimpin-Pemimpin bangsa terpilih yang : berani Jujur, bisa dipercaya dan bisa menunjukkan kepercayaan yang diberikan padanya, bisa bekerja keras untuk bangsa dan negara. Bisa rukun, bisa kompak, bisa bekerjasama dengan benar dan baik dengan semua elemen terkait. Amiin. AJKK

    0 Like

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII