Ukhuwah Merajut yang Berserakan

Herry Mohammad, Redaktur Pelaksana Majalah GATRA
 
Ukhuwah Islamiyah akan bisa diwujudkan jika diantara kita mempunyai keimanan yang dilandasi dengan ketaqwaan. Tetapi persoalan akan muncul ketika ‘gelombangnya’ tidak sama. Ini antara lain karena adanya faktor keimanan dan ketaqwaan yang tak lagi dijadikan landasan. Dalam realitasnya, faktor “keormasan” yang sebetulnya adalah sarana untuk berhimpun, telah berubah wujud menjadi asobiyah baru. Muncul akuisme, “Ajaranku lebih bagus dari ajaranmu”, maka kita akan terjebak pada akuisme yang pernah diusung oleh Iblis.
 
 

Ya, ketika itu Iblis menolak sujud kepada Adam. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun bersujud, kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah’.” (QS. Al A’raaf: 11-12).

Sifat menonjolkan diri sendiri ini jelas akan merusak ukhuwah. Jadi, ukhuwah akan bisa langgeng jika satu sama lain setara, tidak ada yang merasa lebih unggul dari yang lain. Dan kesetaraan itu akan muncul jika masing-masing pihak bisa mengendalikan egonya, tidak menganggap diri atau kelompoknya “lebih” dari yang lain. Egoisme akan terkikis dengan sendirinya bila dasarnya adalah iman dan taqwa.

Karena itu, sebenarnya, sejauh iman dan aqidahnya benar, tidak ada alasan bagi ormas-ormas atau majelis-majelis taklim untuk tidak menjalin silaturahim. Persoalannya adalah, sejauhmana institusi-institusi ke-Islam-an tersebut telah berbuat maksimal untuk menjalin ukhuwah? Bukankah institusi adalah sarana, bukan tujuan?

Peran Media

Tak bisa dipungkiri, dalam kenyataannya, institusi yang didirikan oleh umat Islam punya ke-aku-annya masing-masing. Sejauh tidak keluar dari koridor keimanan dan ketaqwaan, tentu masih bisa ditolerir. Tapi, kalau sudah keluar dari keimanan dan ketaqwaan, persoalannya memang perlu dicarikan solusinya dulu.

Benturan antar komunitas umumnya terjadi ketika suatu kelompok dianggap atau dituduh telah menyimpang dari aqidah ajaran induk. Di sini kita perlu hati-hati, jika perbedaan itu hanya menyangkut “cabang”, ini adalah keragamaan yang mesti diambil hikmahnya. Tapi, bila menyangkut aqidah, tentu perlu dilakukan dialog-dialog guna mengembalikan kepada ajaran yang benar. Untuk mengembalikan kepada ajaran yang benar tersebut, rujukannya mesti sama: Al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Di sini, ke-ego-an mesti dieliminir. Bila ternyata ajaran yang dikembangkan dan didakwahkan itu tidak benar menurut Al-Quran dan Hadits, perlu berlapang hati untuk tidak mengembangkannya.

Lalu, dimana peran media dalam hal ukhuwah Islamiyah? Media, apa pun bentuknya (koran, tabloid, majalah, televisi, serta radio), pada dasarnya adalah alat untuk memajukan umat dan bangsa. Dengan demikian, maka apa yang disuguhkan kepada para pembaca, pendengar maupun pemirsa, adalah suguhan yang bernuansa tarbiyah dan dakwah. Ini yang semestinya. Kenyataannya, tidak selalu demikian.

Berita, begitu pendapat sebagian jurnalis, adalah sesuatu yang bengkok atau karena ada kasus. Jika informasinya lurus-lurus saja, menurut faham ini, itu bukan berita. Rasa keingintahuan masyarakat diberi ruang yang lebar. Persoalannya, apakah “berita adalah berita” atau “berita mengemban misi”?

Dalam hal ukhuwah Islamiyah, sudah semestinya media punya peran sebagai perekat. Mesti tetap mengemukakan unsur “beritanya” agar tidak ketinggalan konteks, bila ada sesuatu yang dianggap bengkok atau ada kasus, idealnya media ikut memberi solusinya. Dan, dalam penyajiannya pun hendaknya memperhatikan prinsip tabayyun secara ketat. Dengan demikian, kehadiran pers bukan membuat atau memperuncing masalah, tapi berperan secara aktif merajut ukhuwah yang (mungkin) masih berserakan. Wallahu A’lam.

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII