Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Esai: Corona (5)

2020/09/08
in Nasehat
0
Ilustrasi

Ilustrasi

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh: Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang

Kalau saja itu tidak keluar dari mulut anak saya, mungkin saya akan memilih diam dan diam saja. Sebab dalam situasi seperti ini, paling baik adalah diam dan waspada. Pesan tua yang menyejukkan; meneng, selamet. Taat, tabah, insya Allah jadi tatag dan tangguh, penuh berkah. 

Sabtu – Minggu kemarin, menjadi hari tersibuk. Pasalnya hari Sabtu pp Tangerang – Semarang menjemput Kakak pertama, dan hari Minggu pp Tangerang – Solo menjemput Kakak ketiga. Kenapa gak sekali jemput? Itulah kenyataannya. Setelah balik dari Semarang, sesampai di Cipali, dikabari kalau anak yang di Solo juga minta dijemput karena dipulangkan pihak sekolahnya. 

Mungkin karena masih kecil, masa pertumbuhan, penuh emosi dan disorientasi situasi, maunya sak dek sak nyet. Saat itu juga mau dijemput. Kebetulan jadwal jemputnya pun tanggal 1 April bukan besok minggu. Maka ini jadi persoalan tersendiri. Setelah lobi sana-sini, minggu jam 7 pagi akhirnya dapat izin untuk dijemput,  dan berangkatlah kami ke Solo menjemputnya. 

Dari keinginannya untuk bisa segera pulang itulah muncul kata-kata yang membuat saya merinding. Dalam perbincangan via telepon dengan lantang dia berkata:” Kita kan orang iman, masak takut corona. Takut itu hanya kepada Allah!” Pleng! Seperti ditempeleng kepala saya. Kalau masih di medsos, saya anggap masih jauh. Silahkan apa saja dan bagaimana terserah, begitu anak sendiri yang ngomong, saya perlu segera koreksi.

Kalimat itu kelihatan bagus dan religius. Menunjukkan keberanian dan ketegaran. Tetapi bagaimanakah sebetulnya? Dalam hadits-hadits shohih dalam masalah thoun (wabah), tidak ada petunjuk dalam menghadapi situasi ini dengan menonjolkan keberanian, dengan nasehat sepeti kata-kata indah itu. Yang ada adalah petunjuk dan nasehat kehati-hatian, penjagaan, tengang rasa dan kesabaran serta penuh optimisme.

Memang kalau kita teliti lebih lanjut kisah Umar bin Khatthab yang membatalkan perjalanan ke Syam, ada kalimat yang berbunyi; Sebagian mereka berkata (muhajir awal), “Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali.” – dalam bahasa sehari-hari apa yang diucapkan putri saya bisa masuk di dalamnya. Dan ternyata itu tidak dipilih oleh Umar. Sang Khalifah memilih kembali dan menghindar dari wabah yang sedang melanda, selagi bisa.

Kemudian untuk urusan rasa takut, secara fitrah manusia diberi Allah rasa takut. Ada rasa takut alami yang Allah letakkan pada manusia untuk menjaga dirinya dari kebinasaan, seperti takut singa kalua diterkam, takut api yang membakar, takut tenggelam, takut racun, takut ditangkap karena akan dibunuh, dan lain-lain. Takut jenis ini efeknya sama semua, yakni membuat orang lari dari yang ditakuti dan berusaha menyelamatkan diri. Takut jenis ini tidak tercela, tidak haram, dan sama sekali tidak bertentangan dengan keimanan. 

Berikutnya adalah rasa takut penghambaan, yaitu rasa takut yang disertai dengan mahabbah (cinta), ihtirom (penghormatan), ta’zhim (pengagungan), tadzallul (menghinakan diri), khudhu’ (ketundukan). Contohnya adalah takut terhadap keris, akik, jimat, kuburan, pohon “keramat”, tempat “suci”, dan lain-lain.

Rasa takut seperti ini bukan malah membuat orang lari yang ditakuti, tetapi justru malah membuatnya mendekat, membuatkan berbagai sesajen, membuat upacara kurban, memuliakan dan lain-lain karena ingin “membujuk hatinya” supaya tidak marah dan tidak menimpakan bencana yang dikuatirkannya. Rasa takut seperti ini hanya boleh untuk Allah dan haram dipersembahkan untuk selain Allah (syirik). Dalam kasus corona, rasa takutnya adalah yang pertama, bukan rasa takut yang kedua. Apalagi kalau memakai hadits dari Imam Bukhary ini ; insya Allah akan memberi kesadaran kepada kita bagaimana seharusnya.

وَقَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ ‏”‏‏.‏

Bersabda Rasulullah SAW; “Tidak ada adwa (penyakit menular), tidak ada thiyarah dan hammah (menyandarkan nasib pada burung), dan tidak ada shofar (menjadikan bulan shofar sebagai bulan sial); dan larilah dari penyakit lepra sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.” Perintah lari adalah haq, bukan menyelisihi rasa takut kepada Allah dan merusak keimanan. Justru dia bagian dari kehati-hatian dan memperkuat keimanan.

Kadang memang susah, untuk bisa berada di waktu dan tempat yang tepat, sehingga menghasilkan respon yang benar. Kata-kata anak saya hanya sebagian kecil pelajaran kehidupan yang hanya perlu disikapi dengan bijak dan penuh pengertian. Semoga waktu dan pengalaman mendewasakannya. Amin.

Tags: covid19khawatirldiiLDIIPedulinasehatpandemikpemahamansituasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • AngkaDH on LDII Jakarta Pusat Hadiri Silaturahim Pemkot, Ormas, dan Pemuka Agama
  • Pri Adhi Joko Purnomo on Meski Kaki Patah, Tsamrotul Fuadah Tetap Tuntaskan Rangkaian Ibadah di Tanah Suci
  • Sudibyo on LDII Jakarta Pusat Hadiri Silaturahim Pemkot, Ormas, dan Pemuka Agama
  • Sudibyo on Kunjungi LDII, Polda Lampung Ajak Kolaborasi Lewat Program Sabuk Kamtibmas
  • Supardo bin Kayat on LDII Magetan Jajaki Kerja Sama dengan Kodim 0804 untuk Penguatan Kebangsaan
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Konjen RI Tekankan 3 Hal Utama bagi 700 Tenaga Pendukung Haji 2026

7 WNI dan 100.000 Riyal Diamankan di Arab Saudi, Diduga Terlibat Haji Ilegal dan Penggunaan Nusuk Palsu

May 1, 2026
Mbah Mardijiyono

Berusia 103 Tahun, Mbah Mardijiyono Jemaah Haji Tertua Asal Indonesia

May 4, 2026
Tsamrotul Fuadah

Meski Kaki Patah, Tsamrotul Fuadah Tetap Tuntaskan Rangkaian Ibadah di Tanah Suci

May 3, 2026
Wapres Gibran

Wapres Gibran Tinjau Makkah Route, Pastikan Jemaah Berangkat Lebih Cepat dan Nyaman

May 1, 2026
Kembangkan Varietas Kopi Unggul di Tana Toraja, Warga LDII Raih Penghargaan Satyalancana Wira Karya

Kembangkan Varietas Kopi Unggul di Tana Toraja, Warga LDII Raih Penghargaan Satyalancana Wira Karya

8
LDII Gunungkidul Dukung Transformasi Pramuka, Tekankan Karakter dan Adaptasi Digital

LDII Gunungkidul Dukung Transformasi Pramuka, Tekankan Karakter dan Adaptasi Digital

3
Santri LDII Magelang Raih Medali untuk Inovasi Bisnis Ramah Lingkungan

Santri LDII Magelang Raih Medali untuk Inovasi Bisnis Ramah Lingkungan

3
LDII Sangkuriman Paser Bangun Jalan Desa dengan Swadaya Warga

LDII Sangkuriman Paser Bangun Jalan Desa dengan Swadaya Warga

2
jemaah haji akan umrah wajib

Jelang Gelombang II, Jemaah Haji Diminta Kenakan Ihram Sejak dari Tanah Air

May 5, 2026
Jemaah Haji indonesia

10.746 Jemaah Dirawat, Kemenhaj Imbau Jemaah Jaga Kondisi Fisik

May 5, 2026
Ketua LDII Kaltim Hadiri Tabligh Akbar Menteri Agama di Islamic Center Samarinda

Ketua LDII Kaltim Hadiri Tabligh Akbar Menteri Agama di Islamic Center Samarinda

May 5, 2026
LDII Jabar Gelar Akademi Entrepreneur Batch 2, Dorong Kemandirian Finansial Mubaligh

LDII Jabar Gelar Akademi Entrepreneur Batch 2, Dorong Kemandirian Finansial Mubaligh

May 5, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Jelang Gelombang II, Jemaah Haji Diminta Kenakan Ihram Sejak dari Tanah Air May 5, 2026
  • 10.746 Jemaah Dirawat, Kemenhaj Imbau Jemaah Jaga Kondisi Fisik May 5, 2026
  • Ketua LDII Kaltim Hadiri Tabligh Akbar Menteri Agama di Islamic Center Samarinda May 5, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.