Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Esai: Menari

2020/09/24
in Nasehat
0
Ilustrasi (steemit.com/ekavieka)

Ilustrasi (steemit.com/ekavieka)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh: Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang

Kalau ada yang bertanya bagaimana mengukur spiritualitas kita? Jawabnya cukup dengan dua sabda indah berikut ini. Pertama,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ ثَابِتٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ قَالُوا يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا الْحَجُّ الْمَبْرُورُ قَالَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ * رواه أحمد

Telah bercerita kepada kami Abdusshamad telah bercerita kepada kami Muhammad bin Tsabit telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Munakdir dari Jabir berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Haji mabrur, tidak ada balasan baginya melainkan hanya surga”, Mereka bertanya, “Wahai Nabiyulloh apa itu haji yang mabrur?” (Rasulullah ﷺ) bersabda, “Memberikan makanan dan menyebarkan salam”. (Rowahu Ahmad Fil Musnad).

Kedua,

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا بِرُّ الْحَجِّ ؟ قَالَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطَيِّبُ الْكَلاَمِ * رواه الحاكم في المستدرك

Dari Jabir r.a., dia berkata; “Rasulullah ﷺ ditanya tentang haji mabrur, kemudian beliau bersabda, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ (Rowahu Al-Hakim Fil Mustadrak)

Dengan dasar ini, bisa ditarik benang merah, bahwa kemajuan spiritual dibuktikan dengan tindakan indah keseharian.

Tidak sedikit, pribadi yang mengeluh tentang praktek spiritualnya. Membaca dan menyimak (mengaji) sudah banyak, mendengarkan nasehat lebih banyak lagi, bergaul dengan orang baik tak terhitung, tapi begitu menyangkut hidup keseharain tidak ada perubahan banyak. Bahkan sudah berkali-kali menginjakkan kaki ke tanah suci para nabi pun serupa. Kebanyakan jalan di tempat. Seorang guru kerap menjawab fenomena ini dengan fatwa bijak sederhana; ilmu adalah salah satu bibir sungai yang dalam, keseharian adalah bibir sungai di seberang. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya bernama muamalah (ritual ibadah keseharian).

Dan muamalah, meminjam pengalaman banyak guru suci, tidak hanya olah gerak, ucapan dan doa-doa semata yang banyak, melainkan mengolah, membiasakan, menguatkan dan meluaskan ruang batin. Memang butuh waktu lama dan ketekunan yang luar biasa untuk membiasakan manajemen batin ini. Seorang guru pernah berpesan; walau belum merasakan keindahan batin, teruslah kerjakan. Hanya masalah waktu pencerahan akan tiba. Pada saatnya, kesabaran menuntun ke jalan yang benar. Jadi, sesulit apa pun perjalanan panjang harus dilakukan bila menginginkan pertumbuhan spiritual.

Ada banyak sekali pendekatan, teknik, cara yang tersedia dalam muamalah ini dan umumnya bermuara pada pendekatan kebajikan. Karena kebajikan adalah fondasi, tembok sekaligus atap tempat suci di dalam diri. Bisa lewat sholat, sedekah, puasa, atau jalur yang tepat sesuai dengan tingkat pertumbuhan masing-masing. Fokusnya menemukan bibit-bibit kebajikan yang ada, menyiraminya, menumbuhkan dan memeliharanya. Puncaknya berbagi cahaya kabajikan ke lingkungan dalam keseharian.

Dalam totalitas, hidup kita berdiri di atas tumpukan kebajikan yang tidak berhingga, mulai dari rembesan cinta ayah dan ibu, hangatnya sinar surya, sejuknya oksigen di jalan nafas, lenturnya air di sekujur tubuh serta persediaan yang melimpah dari perut bumi. Dalam bahasa jiwa, kebajikan itulah bibit kita yang sesungguhnya. Dan dari sini kita jadi mafhum, kenapa inti ajaran spiritual adalah mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran. Karena kebajikan, itulah Ibu spiritual kita yang sesungguhnya.

Sejuk, lembut, indah demikianlah perasaan di dalam ketika manusia sering menyirami bibit-bibit kebajikan yang ada di dalam diri. Dan bagi siapa saja yang sudah menyirami bibit-bibit kebajikannya, ada tugas berikutnya yang menunggu yakni berbagi. Yang paling baik yang bisa dilakukan adalah banyak membantu, bila tidak bisa membantu setidak-tidaknya jangan menyakiti. Inilah langkah-langkah konkrit menyirami bibit-bibit kebajikan yang ada di dalam diri.

Berbagi kebajikan tidak harus dilakukan dengan cara yang hebat dan besar. Memungut sampah yang dibuang sembarangan, mematikan kran air atau lampu yang lupa dimatikan, itu tindakan yang meyakinkan. Menjaga kebersihan lingkungan, menyayangi anak-anak, suami, istri, menghormati tetangga adalah pupuk yang menyuburkan. Sesedikit mungkin menggunakan tas plastik (karena meracuni lingkungan), tidak boros dalam menggunakan air, melepas burung dan ikan, hanyalah contoh tentang berbagi kebajikan yang ikut membuat diri kita jadi bajik kemudian. Dan masih banyak lagi pilihan lain yang tersedia.

Nah, bagaimana jika menemui orang yang sudah sabar, tekun, ikhlas dan bersungguh-sungguh tetapi masih belum juga mendapatkan pencerahan batin? Mungkin pesan Jalaludin Rumi berikut ini bisa membantu.

“Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu,
sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu.
Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari,
sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.”

Jalaludin Rumi

Bisa jadi kita termasuk ahlinya Allah, di dalam lingkaran orang-orang yang dicintaiNya, diberi pencerahan batin, hanya mungkin tidak diberi keutamaan yang tampak oleh yang lain. Yang dibutuhkan sekarang hanya kebesaran hati dalam menerima keadaan ini dan terus menari dalam indahnya kebajikan ini, dalam bermuamalah dengan akhlaqul karimah.

Tags: BatinKebajikanldiiMenarinasehatspiritual

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Nanang Naswito on Renungan Hari 25
  • Fauzi Achmadi on Renungan Hari 25
  • rukmini on Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa
  • Erna Yuliaty on Santunan Anak Yatim DPP LDII Dukung Kampung Pancasila di Surabaya
  • Fauzi Achmadi on Renungan Hari 24
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

March 11, 2026
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

March 10, 2026
Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

March 12, 2026
Menghadapi Tiga Ujian Kehidupan: Harta, Tahta, dan Wanita

Menghadapi Tiga Ujian Kehidupan: Harta, Tahta, dan Wanita

March 13, 2026
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

25
Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

3
Renungan Hari 21

Renungan Hari 21

3
Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

3
Renungan Hari 25

Renungan Hari 25

March 15, 2026
Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

March 14, 2026
Nasehat untuk Anak

Nasehat untuk Anak

March 14, 2026
Nasehat untuk Orang Tua

Nasehat untuk Orang Tua

March 14, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Renungan Hari 25 March 15, 2026
  • Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram March 14, 2026
  • Nasehat untuk Anak March 14, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.