Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Merdeka

2010/08/19
in Nasehat
0
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Rasanya ada sesuatu yang spesial di bulan puasa kali ini. Dan semua kita tahu, bahwa di sela – sela puasa ada perayaan hari kemerdekaan negeri kita tercinta. Tepatnya tanggal 17 Agustus. Dan seperti terpampang banyak di pinggir – pinggir jalan, di gedung – gedung, di gapura gang – gang tersebut bahwa tahun ini adalah hari jadi ke 65 NKRI. Menilik usia, jika diibaratkan dengan perjalanan seorang anak manusia adalah usia senja. 65 adalah usia mendekati ajal. Tetapi tidak dengan perjalanan sebuah negeri. Ia bisa seperti seumur jagung untuk meraih kejayaan dan kemakmuran. Tetapi, bisa juga sebuah tahun kehancuran jika kita sebagai anak bangsa tidak mengisinya dengan baik dan benar.

Pada sebuah acara pelatihan kepribadian yang diberikan kepada para sopir taksi diumumkan bahwa dalam rangka penghematan semua peserta diharapkan membawa bekal makan siang masing – masing. Pelatihannya sendiri bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang – yang sering disebut servise excellence. Hadirlah para sopir dengan antusias. Mereka membawa bekal terbaik dari rumah masing – masing. Para istri menyediakan kudapan favorit buat para suaminya. Bekal yang enak. Maklum kepala keluarga yang harus dimulyakan. Namun ketika acara tengah berlangsung dan tiba makan siang, sang instruktur memberikan komando  agar semua bontot yang dibawa dari rumah harap diletakkan di atas meja masing – masing. Selanjutnya, silahkan tukarkan, saling tukar bekal dengan teman sebelahnya. Suasana pun jadi riuh – rendah. Kebanyakan para peserta pelatihan menyesal dan berat hati memberikan bekal terbaiknya ke teman sebelahnya. Itulah kesan di hari pertama.

Mengantisipasi kejadian di hari pertama, para peserta pelatihan berkeluh kesah panjang – lebar suasana pelatihan kepada isterinya, seraya berpesan agar dibawakan bekal apa adanya. Bekal yang nggak enak, tentunya. Sebab buat apa bawa yang enak – enak toh yang menikmati orang lain, bukan untuk dirinya. Itulah penjelasan yang diberikan kepada sang isteri. Dan suasana pelatihan pun berjalan seperti biasanya, sampai waktu yang ditunggu – tunggu tiba, yaitu makan siang. Namun, apa yang terjadi, instruktur memerintahkan untuk memakan bekal yang dibawa masing – masing. Bukan diberikan kepada yang lain. Banyak peserta yang nggrundel lagi dengan keadaan yang ada, karena tidak sesuai dengan harapan mereka. Situasinya laksana senjata makan tuan.

Di hari terakhir pelatihan, semua peserta baru sadar, atau tepatnya terpaksa sadar dengan keadaan yang ada – dan memerintahkan kepada isterinya untuk membawa bekal terbaik. Kalaulah nanti dibagikan seperti hari pertama, dia bisa memberi yang terbaik buat orang lain. Namun jika tidak, maka dia bisa menyantap hidangan terbaik buat dirinya. Ada perasaan “merdeka” dalam diri mereka menyambut segala keadaan yang ada. Sebab sudah menyiapkan hal terbaik yang mereka bisa. Itulah inti service excellencenya.

Mumpung, di bulan suci mari sucikan hati. Mumpung di bulan puasa, mari meretas asa. Hidupkanlah kemerdekaan diri ini dalam hal yang bersahaja. Tak perlu memikirkan negara. Tak perlu memikirkan politik. Tak perlu memikirkan tetangga dan masyarakat pada umumnya. Tak perlu muluk – muluk. Cukup merdekakanlah diri sendiri ini seperti cerita singkat di atas tadi.

Kita sudah lama merdeka. Sudah 65 tahun. Tapi apa yang kita lakukan sampai saat ini untuk mengisinya. Banyak orang yang belum merdeka dari hawa nafsunya. Banyak orang yang belum merdeka dari keterikatannya. Banyak orang yang belum merdeka menyambut kehadiran teman atau sekelilingnya. Yang ada hanya persaingan dan pertengkaran yang terus mendera. Buat apa merdeka, kalau kita tidak memiliki kemerdekaan diri yang sebenarnya. Yaitu, mampu memberikan yang terbaik kepada orang lain seperti memberi yang terbaik kepada diri sendiri. Banyak orang yang menganggap memiliki kemerdekaan tetapi merampas kemerdekaan orang lain. Dalam lapar yang dalam dan menuju arti merdeka sesungguhnya renungkanlah kembali ayat berikut ini.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Al – Baqoroh 267)

Dan untuk menghilangkan rasa dahaga diri patut didalami kembali ayat yang penuh makna ini, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya“. (QS. Ali Imron: 92)

Dalam hening puasa kali ini, renungkanlah kembali diri masing – masing. Saat yang pas untuk reorientasi pemahaman dan pengertian, sampai di mana diri ini melangkah, demi hal mendasar dalam diri ini.  Kemerdekaan bukan hanya pasang bendera. Kemerdekaan bukan sekedar upacara. Kemerdekaan boleh datang dan pergi, tetapi ketika telah memiliki kemerdekaan hakiki, yang ada hanya keindahan dan kebahagiaan yang melampaui kemerdekaan itu sendiri. Dan itu akan benar – benar berarti ketika setiap diri berhasil mengabdikan yang terbaik buat negeri dan orang lain seperti berbuat baik terhadap diri sendiri. Akhir kata, dirgahayu RI ke 65 dan dirgahayu bagi diri yang telah memiliki kemerdekaannya.

Oleh :Ustadz.Faizunal Abdillah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • rukmini on Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa
  • Erna Yuliaty on Santunan Anak Yatim DPP LDII Dukung Kampung Pancasila di Surabaya
  • Fauzi Achmadi on Renungan Hari 24
  • Ipaslamet on Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa
  • Dani Jumeri on DPD LDII Kabupaten Bandung Tebar 7.000 Paket Takjil Ramadan 1447 H
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

March 11, 2026
Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

Walimah Pernikahan dalam Islam: Sederhana, Sesuai Kemampuan, dan Penuh Keberkahan

March 10, 2026
Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

Antisipasi Krisis di Timur Tengah, LDII Usulkan Empat Ketahanan Keluarga

March 12, 2026
Renungan Hari 21

Renungan Hari 21

March 11, 2026
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

25
Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

Pondok Pesantren Sumber Barokah Santuni Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa

3
Renungan Hari 21

Renungan Hari 21

3
Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

Ulama LDII Isi Tausiah Tekankan Akhlak Sebagai Pondasi Kehidupan

3
Renungan Hari 25

Renungan Hari 25

March 15, 2026
Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram

March 14, 2026
Nasehat untuk Anak

Nasehat untuk Anak

March 14, 2026
Nasehat untuk Orang Tua

Nasehat untuk Orang Tua

March 14, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Renungan Hari 25 March 15, 2026
  • Bukan Tips dan bukan Trik: Tempat sholat yang Nyaman di Harram March 14, 2026
  • Nasehat untuk Anak March 14, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.